Giatlah Mencari Nafkah, Kemudian Bertawakal

Posted by:     Tags:  ,     Posted date:  November 29, 2012  |  2 Comments




Kesalahan memahami hakekat tawakal kerap menjerumuskan orang ke dalam kegagalan dunia-akhirat. Agar tidak termasuk golongan ini, pahamilah keterkaitan antara kerja keras dan tawakal yang diperintahkan.

 Berusahalah. Bekerjalah. Penuhi kebutuhan hidupmu sendiri. Perangi kemalasan. Jangan tergantung pada orang lain.

Imam Ahmad pernah ditanya mengenai seorang lelaki yang hanya duduk-duduk di rumah atau di masjid, seraya berkata, “Aku tidak mau bekerja sedikit pun, karena rezekiku akan datang sendiri.” Maka beliau berkata,”Ia adalah orang yang tidak paham agama.” Selanjutnya Imam Ahmad berkata, “Para sahabat dulu berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Padahal merekalah teladan kita.”—Fathul Bari, 11/305-306

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya  agar giat bekerja dan berusaha keras mencari rezeki guna menjaga kehormatan diri dan masa depan keluarga. Beliau bersabda:

“Berusahalah untuk mencari sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah. Jika sesuatu terjadi padamu, maka jangan katakan, Seandainya aku melakukan hal ini, pasti tidak seperti ini. Namun katakanlah, Ini takdir Allah dan apa yang telah Dia kehendaki pasti Allah lakukan. Karena berandai-andai itu membuka peluang untuk setan.

Ibnul Jauzi mengatakan, “Tidaklah ada seorang  yang malas bekerja kecuali berada dalam dua keburukan. Pertama, menelantarkan keluarga dan meninggalkan kewajiban dengan alasan tawakal,  sehingga hidupnya menjadi batu sandungan orang lain dan keluarganya berada dalam kesusahan. Kedua, menghinakan keluarganya. Sifat ini hanya dimiliki oleh orang yang tidak bermartabat—karena orang bermartabat tidak akan rela kehilangan harga diri hanya karena malas.

Tawakal bukan berarti tidak berusaha. Syaikh Dr. Fadhl Ilahi mengatakan, “Tawakal bukanlah sama sekali meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap Muslim wajib berusaha dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan materi hidupnya. Hanya saja dia tidak boleh menyandarkan diri pada usaha, kerja kerasnya semata. Tetapi ia harus menyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rezeki itu hanyalah dari Allah semata.”—Mafatiihur rizq fi dhau’il kitab was sunnah, hal. 40

Imam Abul Qasim Al Qusyairi berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya tawakal itu letaknya di dalam hati. Sementara usaha yang dilakukan tubuh tidaklah bertentangan dengan tawakal di dalam hati, setelah seorang hamba itu menyakini bahwa rezeki datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, hal itu karena takdir-Nya, dan jika terdapat kemudahan, hal itu karena kemudahan dari-Nya.”—Mirqatul
Mafatih
,  5/157

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya  ia berkata:

قَالَ رَجُلٌ لِلـنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : أَرْسِلُ نَاقَتِي وَأَتَوَكَّـلُ. قَالَ: اَعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ .

“Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Bolehkah aku lepaskan untaku lalu aku bertawakal? Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakal-lah.”—HR Ath Thabrani, Adz Dzahabi, Al Haitsami

Ikhtiar dalam Mencari Nafkah

Beberapa hal dapat ditempuh seorang Muslim untuk mendapatkan, menjaga dan mengembangkan usaha yang dirintisnya agar memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Di antaranya:

Bertakwa

Imam Ar Raghib Al Ashfahani memberikan definisi takwa sebagai “menjaga jiwa dari perbuatan berdosa, dengan meninggalkan segala yang dilarang; dan takwa ini bisa menjadi sempurna, dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan (karena syubhat, ed.).”—Al Mufradat fi gharibil Quran, dari kata  “وقـي’ hal. 531

Anjuran menjaga ketakwaan berkaitan erat dengan upaya mencari nafkah. Bekal takwa akan menjadi rambu-rambu bagi seseorang dalam mengais rezekinya, sehingga dia bisa meenjamin bahwa uangnya adalah halal.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radliallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan ambilah yang baik dalam mencari rezeki (ambil yang halal dan tinggalkan yang haram). Seimbang dalam berusaha dan menuntut ilmu.” –HR Hakim

Seorang Muslim yang bertakwa sangat dituntut berlaku seimbang antara menuntut ilmu dan mencari nafkah. Sebab bila kekuatan ilmu dan kekuatan harta bisa bersinergi dengan baik, akan lahirlah sebuah kekuatan yang dasyat dan pengaruh positif bagi proses dakwah dan kebangkitan umat.

Profesional

Adalah kewajiban seorang Muslim bekerja profesional, baik untuk pekerjaan skala kecil maupun skala besar. Jika sebuah pekerjaan dilakukan secara profesional, insya Allah akan menghasilkan keuntungan maksimal.

Menjaga waktu

Bagian dari ikhtiar seorang Muslim dalam bekerja adalah bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk hal yang bermanfaat, terkait urusan dunia dan akheratnya, sehingga tidak ada waktu untuk hal yang sia-sia.

Amanah

Amanah adalah sifat yang sangat agung. Allah dan rasul-Nya memerintahkan kepada setiap Muslim untuk menunaikan amanah yang diembannya dan tidak berkhianat, sekecil apa pun amanah tersebut.

Istiqamah

Seorang Muslim harus istiqamah dalam menuntut ilmu, beribadah dan berusaha maksimal menjalankan usaha dan meniti hidupnya. 

Perbanyak doa

Doa sangat bermanfaat dalam segala hal. Baik hal itu belum terjadi atau setelah terjadi. Orang sombong enggan berdoa dan meminta kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau berdoa kepada-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.”—QS Ghafir [40]: 60

Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.—QS Al-Baqarah [2]: 186

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ.

“Doa adalah ibadah.”—HR Ibnu Hibban, Abu Daud, Turmudzi, dan dishahihkan al-Albani
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحِيْ إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صَفْرًا خَائِبَتَيْنِ.

“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu, lagi Maha Pemurah. Dia malu jika seseorang menengadahkan tangannya (meminta) kepada-Nya, kemudian dia menarik tangannya dalam keadaan hampa tanpa mendapat apa-apa.”HR Turmudzi dan dishahihkan al-Albani

Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.***

Zainal Abidin, Lc.

Rubrik Bening Hati Edisi 23/Januari 2012