Lima Tanda Bahaya Keuangan

Posted by:     Tags:  ,     Posted date:  November 20, 2012  |  Comment




Kenali tanda-tanda bahaya keuangan pada bisnis Anda. Cocokkan tanda-tanda itu, apakah ada di antaranya mirip dengan dalam tulisan ini.

Bocah 12 tahun, Robert, membenci guru matematikanya. Sang guru membuatnya kesal dengan soal cerita dungu dan tidak mengizinkannya memakai kalkulator. Lalu, dalam mimpinya, ia bertemu setan angka yang menunjukkan padanya apa sesungguhnya matematika itu: nol dan satu, rangkaian tak terhingga dan bilangan rasional, bilangan prima dan probabilitas.

Tentu saja, Anda bukan Robert, tokoh dalam buku laris untuk anak dan makhluk berpikir lainnya berjudul Setan Angka: Sebuah Petualangan Matematika karya penulis kelahiran Jerman, Hans Magnus Enzensberger. Anda seorang pengusaha. Bisa jadi Anda lagi kesal, seperti Robert, karena bisnis Anda tidak juga bersinar. Tapi Anda tidak sedang bermimpi—apalagi bertemu setan.
Anda sedang terjaga. Di depan Anda tergelar bercarik-carik kertas. Di sana Anda mendapati kenyataan bahwa bisnis Anda sedang dalam perkara serius. Anda dalam kesulitan keuangan—kalangan praktisi akuntansi sering menyebutnya bahaya keuangan. Keuangan bisnis Anda tidak mampu lagi memenuhi berbagai kewajiban. Kondisi keuangan, bahkan bisnis Anda, sedang tidak normal.
Seperti Robert yang tidak takut matematika, Anda pun tidak gentar dengan masalah serius yang sedang Anda hadapi. Anda menganalisisnya. Dan kajian yang Anda buat berhasil menemukan berbagai keadaan. Anda berkesimpulan: bisnis memang sedang melaju tidak normal. Perusahaan sedang menghadapi situasi sulit. Adakah hasil kajian Anda mirip dengan empat tanda berikut ini?
Pertama, laba bersih selama dua tahun terakhir negatif. Kedua, nilai saham bersih kurang dari face value saham dalam tahun terakhir. Ketiga, auditor memberi opini adverse atau disclamer pada laporan keuangan tahun terakhir. Dan keempat, nilai kepemilikan ekuitas yang diakui auditor dan departemen terkait kurang dari nilai modal yang tercatat pada tahun terakhir.
Anda pun telah mencatat sejumlah tanda lain yang menunjukkan adanya bahaya keuangan bisnis Anda. Cocokkan, apakah tanda-tanda itu ada di antara lima tanda berikut ini.
1. Kegagalan dalam ekonomi, karena pendapatan tidak dapat menutupi total biaya—atau biaya yang Anda keluarkan lebih banyak ketimbang pendapatan yang Anda diterima.
2. Kegagalan bisnis, alias bisnis Anda tutup akibat merugi.
3. Teknis insolvensi, karena bisnis Anda tidak mampu memenuhi kewajiban lancar ketika jatuh tempo. Anda tidak mampu membayar utang secara teknis karena kekurangan likuiditas yang sifatnya sementara, yang jika diberi waktu, Anda mungkin masih dapat membayar utang. Jangan puas dulu, karena bisa jadi tanda bahaya ini malah merupakan gejala awal kegagalan ekonomi menuju bahaya keuangan bisnis Anda.
4. Kepailitan dalam kebangkrutan, karena nilai buku utang Anda melebihi nilai pasar aset. Kondisi ini lebih serius ketimbang teknis insolvensi karena ini tanda economic failur dan bahkan mengarah ke likuidasi.
5. Legal bankruptcy, artinya perusahaan Anda dinyatakan bangkrut secara hukum karena Anda telah mengajukan permohonan pailit secara resmi sesuai undang-undang.
Istilah keuangan memang rumit. Kita coba sederhanakan. Cermati tanda-tandanya. Jika perusahaan Anda sedang kesulitan keuangan, umumnya mengalami penurunan dalam berbagai hal. Antara lain dalam pertumbuhan, kemampuan menghimpun laba dan juga aset tetapnya juga menyusut.
Kesulitan keuangan dapat pula ditandai dengan melemahnya kondisi keuangan, kreditur Anda mulai mengambil tindakan, pemasok bahan baku bisnis Anda minta dibayar kontak dan pembayaran deviden kepada pemegang saham juga tidak lancar.
Contoh-contoh problema dalam kaitan bahaya keuangan berikut ini semogalah dapat membantu Anda mendiagnosis tanda-tanda bahaya pada keuangan pada bisnis Anda. Text book keuangan menunjukkan beberapa contoh problem bahaya keuangan berikut ini.
1. Overtrading atau perdagangan berlebih, atau proyek besar. Overtrading diartikan sebagai situasi ketika sebuah perusahaan melakukan penjualan yang tumbuh lebih cepat . Biasanya mengarah pada membesarnya utang atau piutang, sementara modal kerja tergerus untuk membiayai operasional perusahaan.
2. Terlalu banyak utang. Anda sangat paham soal ini. Bahaya utama meminjam terlalu banyak adalah tidak mampu melunasinya. Konsekuensi ekstremnya, bisnis gagal dan akan memaksa Anda menjual aktiva untuk melunasi utang-utang Anda. Karena itu, antisipasilah kondisi ini, dengan terlebih dahulu mempertimbangkan penyelesaian informal utang Anda sebelum muncul konsekuensi hukumnya. Mintalah kemudahan pelunasan tagihan utang dalam hal jangka lebih panjang kepada para pemasok Anda. Tapi permintaan ini harus Anda imbangi dengan penjadwalan yang lebih baik, sehingga pada saat jatuh tempo pembayaran, sudah ada dana masuk dari pendapatan.
3. Terlalu banyak piutang yang belum tertagih. Dampaknya selalu buruk bila piutang Anda sulit ditagih. Pemasukan bisa nol. Piutang yang tak tertagih bahkan bisa menjadi kerugian. Karenanya, ketahuilah efisiensi piutang. Anda dapat mengukurnya melalui perputaran piutang atau rata-rata terkumpulnya piutang. Semakin tinggi tingkat perputaran piutang, semakin efisiensi piutang Anda. Atau semakin cepat piutang dibayar, semakin efisien. Cepat atau lambatnya penerimaan piutang tergantung syarat pembayaran yang Anda ajukan. Semakin cepat, semakin cepat pula perputaran pembayaran piutang.
4. Kurangnya modal. Anda tahu, modal kerja sangat berpengaruh bagi perusahaan Anda. Adanya modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan Anda melakukan aktivitas tanpa banyak kesulitan atau hambatan. Sebaliknya, modal kerja yang cekak dapat menjadi sebab utama macetnya kegiatan bisnis Anda.
5. Pengelolaan kas yang tidak memadai. Ini juga bisa jadi masalah. Awalya dimulai dari penerimaan kas dan pengeluaran kas yang tidak tercatat dan dokumentasinya kacau, sehingga posisi nilai kas tidak dapat disajikan secara akurat.
6. Pengawasan yang tidak memadai. Maksudnya, pengawasan dalam hal keuangan. Jika tidak memadai, bisa menjadi sumber penyebab masalah keuangan perusahaan Anda. Anda memerlukan pengawas keuangan yang mampu mencermati proses pencatatan dan pelaporan keuangan agar hasilnya baik dan aman bagi perusahaan Anda.
7. Pengambilan uang berlebihan. Anda sangat paham perkara ini bisa berujung pada masalah keuangan perusahaan. Karena itu, usahakanlah penggunaan uang sesuai proyeksi atau rencana.
Seperti bocah Robert yang menemukan apa yang bisa dilakukan oleh angka, semoga kecerdasan yang terasah akibat kesulitan keuangan bisnis saat ini dapat membantu Anda segera bangkit kembali.***

Guritno Wirawan, SE

RUBRIK: KEUANGANEDISI NO. 24-FEBRUARI 2012
*) Penulis adalah Trainer Software Akuntansi Zahir Accounting

Artikel ini kerjasama antara majalah Pengusaha Muslim dan PT. Zahir Accounting