Meningkatkan Brand Image dengan Social Media

Posted by:     Tags:      Posted date:  November 8, 2012  |  No comment





Social media menjadi media internet paling sering diakses di Indonesia saat ini, mengingat kemudahan dalam menambatkan konten secara online sekaligus otomatis distribusinya. Berbagai bentuk berbagi ini rata-rata adalah ekspresi diri, sebagai bentuk bersosial secara ringan, walau akhirnya menjadi      kemudahan entu untuk meningkatkan nilai positif. Walaupun dalam perkembangan social media juga digunakan untuk promosi  . Ada 11 elemen dari social media, namun dalam tulisan ini diambil 1 elemen saya yaitu jejaring pertemanan FACEBOOK.

Karena mengambil dari contoh salah satu social media paling terkenal saat ini, FACEBOOK, maka harus dipahami bahwa ada 2 tempat  yang bisa dilakukan untuk membangun brand images. Pertama adalah konten organiik, yaitu tulisan  dinding, catatan artikel, foto promosi, gambar even. Kedua, adalah iklan berbayar di Facebook yang lokasinya ada di deretan sebelah kanan/side bar kanan.

Kenapa keduanya harus dipahami? Karena memang kekuatan distribusinya berbeda sekali dalam melakukan kampanye bisnis di social media.

Pertama, menggunakan konten organik, misal tulisan dinding, maka akan terdistribusi kepada siapapun namun masih terbatas dalam keterikatan pertemanan, atau temannya teman. Artinya ada fungsi teman sebagai pembaca tulisan, atau sebagai perantara kepada “temannya teman” kita agar juga membaca, jika dihitung dengan benar maka jangkaun distribusinya cukup terbatas dan kurang teratur, siapapun teman kita,  berapapun usia, lokasi, gender. Pun memanfaatkan FACEBOOK PAGE, FACEGROUP tetap ada keterbatasan jangkauan.

Kedua, menggunakan iklan berbayarnya FACEBOOK yang secara khusus bisa diatur distribusinya kepada member manapun tidak terikat apakah menjadi teman atau bukan, yang penting sesuai kategori, dan bisa pemasang ikan bisa menyusun kategori secara kreatif misal umur, gender, lokasi, jam tayang. Dari sisi distribusi maka iklan berbayar di facebook akan menjadi lebih mengena segmen dan targetnya. Namun memang seberapa terdistribusi dan seberapa sering tampil akan dipengaruhi oleh kelenturan dana iklan yang dianggarkan.

 

FACEBOOK VS GOOGLE ADWORD

Masih ada pertanyaan mendasar, lebih efektif manakah mengiklankan di FACEBOOK atau di GOOGLE ADWORD? Tentu untuk  menjawab ini harus dipahami hirarki marketingnya. Bahwa FACEBOOK mendistribusikan konten iklan berdasar kategori segmen, misal iklan muncul berdasar data audicence, misal umur, lokasi, dan sebagainya, namun berbeda dengan Google Adword, yang tidak mengenal kepada personalisasi member yang dituju, yang ada adalah mendistribusikan iklan kita berdasar keyword yang ditentukan, selanjutnya iklan dan keyword yang dipilih akan di pasang di web yang memiliki tema materi sesuai keyword, tersebar di media online sesuai keyword tersebut, ke seluruh penjuru online.

Sehingga jika dipahami dengan benar, karena keduanya berbeda hirarki marketingnya dalam melakukan pendekatan kepada konsumen maka harus cerdik dalam menyusun taktik pendekatan ke konsumen.

 

LIMA LANGKAH MEMBANGUN BRAND IMAGES

Sebelum melakukan kampanye menggukan social media maka tentukan dahulu beberapa hal ini agar menjadikan brand semakin dikenal baik

Pertama,  Internalisasi
Internalisasi adalah upaya secara internal perusahaan menentukan kesan apa yang akan dikirim melalui social media, segmen dan target yang dituju, setelahnya buatlah rangkaian pesan, bisa teks, gambar atau video presentasi. Tentukan nilai relevansi nya antara pesan dan audience, sehingga nantinya audience bisa menangkap persepsi yang benar. Tujuan dari internalisasi agar benak konsumen terisi sesuai dengan apa yang diharapkan, bukan malah yang lainnya.

Kedua,  Momentum (Time to Market)
Ttentukan dahulu kapan pesan bisnis akan muncul dan bentuk pesannya, sehingga hasilnya akan tepat sasaran dan mendapatkan perhatian dari audience. Momentum ini bisa berkenaan dengan waktu seperti malam hari,  atau adanya hari tertentu misal saat bulan ramadhan, saat ada arus mudik, sehingga diharapkan pesan ini dapat  menjadi daya tarik, dan selalu menarik untuk diperhatikan atau dibaca.

Ketiga, Member Development,
Istilah  member development ini saya persepsikan secara pribadi adalah suatu taktik untuk mengembangkan jangkauan didalam social media. Misal untuk pertemanan maka menjaring teman dan pelanggan seminggu ditarget dalam jumlah tertentu, atau jika dalam bentuk FACEBOOK PAGE maka berapa feedback/partisipasi yang bertambah setiap minggu, namun jika muncul dalam iklan berbayar maka bisa menentukan perpindahan target untuk audiencenya, atau jam tayangnya, mengingat antar pekerja, mahasiswa, pensiunan dan penggangguran memiliki rutinitas menggunakan facebook yang berbeda. Setiap berpindah, harus dicata reaksi yang timbul dan kesesuaian harapan.
Keempat, Content Development,
Isitlah Content Development juga saya persepsikan secara pribadi sebagai bentuk kreatifitas agar ada kesadaran ketika menyentuh area public seperti di social media tidak kehabisan konten untuk mendekatkan ke konsumen, karena ibaratnya FACEBOOK tanpa konten yang rutin layaknya kertas kosong yang tidak memiliki makna apapun. Apa saja konten yang perlu dipersiapkan? Bisa dari sisi internal, yaitu benefit, cara menggunakan, peneriman award, prestasi SDM,  diskon, specisl price atau dari sisi ekternal, yaitu testimoni dari konsumen, ucapan terimakasih atas pembelian atau kunjungan, bisa juga adanya acara gathering yang dibangun oleh komunitas dari produk kita.

Kelima,  Reaksi Online
Bahwa kelebihan dari social media adalah adanya reaksi dari konsumen baik itu positif dan negatif, ini perlu sangat diperhatikan karena di sanalah suara konsumen muncul dalam bentuk reaksi spontan, seadanya, ceplas-ceplos, vulgar dan tegas. Di sisi lain reaksi ini juga bisa muncul dari berbagai kalangan, misal reseller, agen, pengguna, masyarakat umum namun juga bisa pesaing yang hadir secara pribadi, baik pemilik, staf, atau reseller pesaing. Kehadiran secara online ini harus disambut secara positif.
Kelima hal tersebut di atas adalah upaya dan tahapan, namun jika dalam pengembangan bisa melakukan improvisasi, sehingga persoalan social media ini tidak lagi benar atau salah, tapi butuh atau tidak, tepat atau tidak, cocok atau tidak.

Siapapun penggunanya, naik perusahaan perorangan atau intansi, bisa melakukan kampanye dengan social media secara cermat, bahwa itu adalah media 2 arah, dan bisa memunculkan reaksi sesuai harapan atau sama sekali tidak terduga.

Ipan Pranashakti 

(Rubrik Klinik Online Edisi 30/Agustus 2012)