Paroli, Menuai Berkah dari Bisnis Bebek Potong

Posted by:     Tags:  , ,     Posted date:  March 7, 2013  |  No comment


March 7, 2013


Akhir-akhir ini tren rumah makan bebek terus meningkat di kota Bandung dan sekitarnya. Tengok saja di sepanjang jalan di kota Bandung berjajar warung makan sederhana dadakan di malam hari yang menyediakan bebek sebagai menu utamanya.

Belum lagi beberapa restoran dan cafe yang langsung mengusung brandnya dengan nama bebek seperti Bukan Bebek Biasa, Bebek Garang, Bebek Goreng Haji Slamet, dan lainnya. Mereka menawarkan bebek sebagai menu utamanya, entah itu bebek goreng, bebek bakar sampai bebek penyet.

Kondisi ini tentu saja menuai berkah bagi para pebisnis bebek pedaging (potong). Paroli salah satunya. Peternak bebek pedaging dari Bojongsoang, Kabupaten Bandung ini mengeluarkan 2.000 bebek potong dalam sehari.

Bahkan ia sendiri saat ini harus memenuhi permintaan pasar sebanyak 100.000 ekor bebek potong dalam sehari. Tentu saja ini, jumlah yang sangat besar. Dan ia baru akan bisa memenuhinya akhir tahun ini.

“Kita kewalahan dengan permintaan pasar saat ini yang menembus angka seratus ribu ekor per hari. Ini dampak dari meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap daging itik” kata Paroli saat ditemui di rumahnya Komplek GBI Blok G1 No 1 Desa Buahbatu, Kecamatan Bojongsoang,  Kabupaten Bandung.

Ia gelontorkan uang 40 juta untuk memulai beternak bebek dua tahun silam. Ia siapkan kandang 400 meter yang bisa menampung 10.000 ekor bebek dengan 10 orang tenaga kerja termasuk ahli pencatatan.

Lokasi kandangnya sangat strategis. Di samping kanannya membentang areal pesawahan sedangkan samping kirinya mengalir sungai. Dibutuhkan waktu 7 menit dari rumahnya untuk menuju ke lokasi ini.

BERDAYAKAN MASYARAKAT

Tepat di belakang kandang bebeknya Paroli terdapat pula lahan seluas 200 meter untuk pembuatan kandang bebek berikutnya. Namun itu bukan miliknya, tapi milik calon mitra peternaknya.
Selain disana ada juga mitra peternak lainnya yang tersebar di kabupaten Bandung. Jumlah bebeknya di mitra-mitra tersebut masih sedikit, sekitar 3000 ekor yang dikelola oleh 4 mitra.

“Sedikit, karena mitra kita di perkampungan kan hanya bisa menampung 100-200 ekor permitra. Lokasi kandangnya juga kan di samping rumahnya. Mitra kita yang agak besar berada di Sapan Kabupaten Bandung. Di sana menampung 1000 ekor” tutur pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 12 Desember 1971 ini.

Fasilitas yang ia berikan kepada mitra berupa pemberian DOD (day old duck) atau anak itik umur sehari, pakan, obat-obatan serta tata cara pengurusannya. Ia sendiri banyak belajar peternakan bebek ini dari Bapak Fatah lulusan S2 Peternakan di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.

Adapun sistem bagi hasil yang ia terapkan dari penjualan bebek yang diurus mitranya adalah fifty-fifty “Sistem kemitraan ini tidak akan saya hapus. Saya ingin membuka lahan kerja untuk masyarakat di perkampungan. Meskipun mereka menampung sedikit, tapi tak masalah. Asalkan nafkah keluarganya terpenuhi dan mau berkembang,” kata Paroli.

Sedangkan untuk memenuhi 100.000 ekor perhari itu, suami dari Sari Sundari ini kini telah membebaskan lahan 1 hektar dari 1,7 hektar yang telah ia bidik. Lokasinya di pinggir jalan raya di daerah Rancamanyar Kabupaten Bandung.

Pada lokasi tersebut akan dibuka tempat peternakan sekaligus rumah potong hewannya (RPH). “Karena itu pinggir jalan. Maka orang bisa melihat, proses budidayanya dari penetasan, bebek kecil, sedang hingga dewasa. Pengunjung juga bisa melihat proses pemotongan serta pembersihannya” kata lulusan S1 Akuntasni di Universitas Ibnu Khaldun Bogor ini.

Jenis bebek yang saat ini diternakan oleh Paroli adalah bebek kalung (bebek magelang), Alabio serta bebek merah. Dari ketiga jenis bebek ini bebek kalung dan alabio yang paling banyak dipesan orang.

Usia bebek siap dipotong antara 49 – 52 hari. Bebek-bebek ini dipesan oleh bandar dan beberapa pedagang makanan bebek skala kecil. Untuk bandar biasanya mereka memesan antara 1000 hingga 2000 ekor dalam sehari. Satu ekornya dengan 1,4 kg dihargai 23 sampai 25 ribu.

Sedangkan untuk pedagang kecil, mereka biasa memesan antara 10 sampai 30 ekor sehari. Harga perekornya lebih mahal dengan selisih harga dua ribu rupiah.

Para pemesan tersebut kebanyakan mengetahui bebek Paroli dari mulut ke mulut. “Bandar dan pedagang makanan bebek kan sekarang banyak cari bebek karena masyarakat senang bebek. Maka mau tak mau mereka akan saling bertanya. Dan produk yang dicari itu tidak usah kita beriklan”, kata Paroli sambil tersenyum. (Laporan Muhammad Yasin, Bandung)

Edisi 20/2011

Bisnis Karena Hoki

Lima Kesalahan Fatal Penyusunan Laporan Keuangan

Lima Kiat Meningkatkan Kinerja Arus Kas



About the author







Komentar